Postingan

Merci Beaucoup 2025

Hari ke-365.. Sampai di halaman terakhir buku tahun ini, aku ingin menceritakan banyak hal yang tidak cukup jika kusampaikan di caption. First of all, thank you 2025. Tahun ini jadi tahun pertama kalinya aku mengenal arti tenang. Jadi tahun tersunyi disemua ruang bahkan fikiranku sendiri. Aku melewati tahun ini bersamamu tanpa banyak tersandung, menuntunku perlahan tanpa melihat mereka yang berlari jauh lebih cepat dariku di depan. Aku melambatkan hembusan setiap nafas, merasakan perlahan kedipan mataku dan memperpanjang waktu untuk duduk terdiam. Pertama kalinya aku memfungsikan telinganku sedikit lebih baik, menyediakannya untuk mendengar suara anak kecil yang hidup di dalam diriku, suaranya sengaja mengecil karena kalah dari egoku. Aku banyak mengambil sudut di banyak ruang, memesan segelas minuman. Duduk, menulis apapun yang ingin aku ceritakan, atau sekedar menandai kalimat terbaik di halaman buku favoritku. Ternyata bertanya harga sekilo ikan itu hal yang juga menye...

Because this is my first life (just for me)

Dunia ini kembali menyambutku diseperempat awal kehidupan. Menamai banyak cinta dengan pola sederhana namun cukup hangat. Aku menamai banyak kisah dari setiap perjalanan usia yang mulai berkurang. Hampir semua jenis doa permohonan dan penyesalan, rasanya sudah cukup banyak dilantunkan. Kadang aku merasa malu dengan doa memohon yang lebih banyak terucap dari pada ucapan maaf dan menyesal terhadap Tuhanku. Aku mencukupkan semuanya dengan lafaz, Rabbish rahli sadri, wa yassirli amri, wahlul 'uqdatam millisani, yafqahu qouli. Surat ini terlewat lama sejak akhirnya aku berpisah dengan 25 tahun awal kehidupanku. Menanyakan kembali pertanyaan saat bertemu quarter life crisis sendirian. Ku kira itu berakhir di seperempat usiaku, ternyata aku baru saja memulai membuka semua itu. Aku sadar bahwa tidak ada seorangpun akan menjamin dirinya selalu berada di dekatku. Kalimat itu seakan tertanam hingga saat ini, sadar bahwa hanya aku yang harus melaluinya. Sendiri! Mengingat banyak hal yang...

Perpisahan Sederhana

Notifikasi masuk dipenghujung hari biasanya, Kana bersiap merubah dirinya menjadi versi lain mala mini. Menyudut sepi sendiri ditemani earphone nya, sinar lampu kamarnya ikut menemani ruang sempit beralas kayu jati itu dengan terang. Membiarkan cahaya itu tetap bersamanya sebelum lewat tengah malam. Kana melihat notifikasi podcast yang ia dapatkan dari Panca. Kana sedang belajar untuk duduk, duduk tenang mendengarkan apapun yang terlintas di telinganya. Bincang podcast kali ini sedikit menguras logikanya, ia mendengarkannya sembari membuka lemari 4 tingkat miliknya yang sudah rusak engselnya. Memulai semua perpisahan dari tingkat paling atas. Kana membongkar lemari itu beserta cerita mereka pada setiap helai bajunya. Kaki mungil itu terlihat sedikit menjinjit meraih helai kaos paling bawah untuk menarik semua pakaiannya. Kana masih memutar podcast itu sambil mengiyakan perkataan sang audio seakan tubuh dan fikirannya dikendalikan oleh sebuah audio. Suara itu memaksa Kana meruba...

Biru

  (Chapter 1...) Pada suatu pagi yang cerah, di balik selimut tipis itu kaki mungil Dawa perlahan keluar menghangat bersama terbitnya matahari. “Dawa, kamu sudah siap untuk bangun ?” panggil sosok perempuan paruh baya. (sambal menguap) “Huaaaa.. ini sudah pagi ya, Umma ?” sahut pelan Dawa sambil mengusap matanya. Umma yang sedari tadi menunggunya untuk bangun, menyambut Dawa dengan lembut sambil mengecup pelan kening sang anak. “Umma sudah masakkan telur kesukaanmu.” sambil tersenyum melihat Dawa Bergegas dengan langkah kecil sambil terus menguap, Dawa membasuh muka lalu Bersiap menyantap sarapannya. “Pelan-pelan makannya sayang.” “Masakkan Umma palingggg eennaaakkkk.” teriak Dawa memuji masakan Umma. Pagi itu, sehangat sinar matahari pagi. Ruang makan kecil itu ikut terasa hangat dengan tawa dan celoteh Dawa yang terus bercerita banyak hal kepada Umma. Namun, tak berselang lama. Langit diluar tampak gelap. Awan menghitam bersama dengan datangnya angin kencang yang...

Bubur Ayam untuk Kana

   Lama tak berSUA. Tanya Kana pada sosok kecilnya yang dulu sering ia ajak bercerita lewat goresan buku yang kini sudah berganti di lembaran kertas yang sudah tak usang lagi. Aromanya masih sama, teksturnya tetap kasar setiap halamannya. Tapi, kali ini setiap nada dan goresannya sudah lebih lembut menyentuh pena tanpa ada tangisan, entah besok.    Kamis milik Kana jauh lebih penuh dari hari biasanya. Ia sedang merasa termotivasi setelah mendengar kabar tentang idolanya, jangan tanya siapa karena itu hanya rahasia yang sia sia. Hebatnya, Kana mulai senang dengan hal yang sia sia. Ia mulai lebih sering melihat dan mengitung berapa lama durasi waktunya untuk mandi, memutuskan mencuci pagi atau malam baju bajunya, memilih skincare step ia lakukan dirumah atau di kantor. Seniat itu motivasi sang idola untuk hidupnya sekarang.    Tapi kali ini bukan hanya prestasi dengan waktu, Kama mencoba memberanikan dirinya untuk mengaduk seporsi bubur ayam full topping meng...

Malam Lampau Terakhir

Kumandang takbir bersahut menyapa langit dihiasi kerlip cahaya-Nya yang menandakan kepergian bulan penuh ampunan dan kehadiran bulan kemuliaan-Nya yang paling nyata. Dari lorong paling dalam dan curam itu, kaki mungil Yara menapak perlahan masuk ke dalamnya. Ia yakin kaca mungil itu ada di sana. Tangan halus itu meraih panjang benda kesayangannya, sambil tertusuk dingin dari rintik gerimis malam itu. Yara tak ingin kehilangan kaca kecil kesayangannya, ia terus memanjangkan setiap ujung jarinya hingga bisa meraih kaca itu, namun serpihan kaca itu sudah cukup banyak retakan, Yara terdiam dan merasa hadiah itu tidak sengaja ia rusak. Kaca mungil itu punya banyak cerita hingga ia bisa memilikinya. Sosok wanita paruh baya yang ia temui di toko kain tahun lalu memberikan kaca itu kepadanya. Yara berjanji akan menyimpannya dengan baik  Tetapi itu terlalu rapuh untuk sebuah kaca, layaknya alasan wanita paruh baya itu memberikannya. Ia tau, Yara juga terlihat rapuh dan mudah pecah dari raut...

Sibuk banget Dunia

Sendal jepit dengan lis biru muda menemani langkah mungil kana untuk terus menapakkan pikirannya yang terus menggenggam kuat di benaknya. Ia hanya mengenakan sendal jepit itu di sudut ruang paling kecil dari panggung sandiwara hidupnya, mengenakannya hari demi hari tanpa ada tanda untuk menggantikannya dengan harapan lain. Tapak sendal itu pun sudah mulai licin, tak jarang lebih sering membuat kana terjatuh di dasar paling curam. Namun, ia sudah lebih sering berada di tempat paling jatuh sejatuhnya dasar. Ia lebih suka tempat itu, tempat yang pastinya membuatnya lebih damai dan memastikan tidak akan lebih banyak titipan di masa depan. Pagi itu angin sedikit berhembus lebih kencang dari biasanya, namun sinar mentari itu tetap ingin menyapa kana dengan hangat untuk memastikan kana baik dan bahagia. Tapi, kamus hidupnya belum sampai di kata bahagia, selesai sampai di angan. Kana melewati pintu kayu bergagang besi tua yang sudah berkarat, ia memulai untuk menyapa pedagang yang ia selal...