Malam Lampau Terakhir

Kumandang takbir bersahut menyapa langit dihiasi kerlip cahaya-Nya yang menandakan kepergian bulan penuh ampunan dan kehadiran bulan kemuliaan-Nya yang paling nyata. Dari lorong paling dalam dan curam itu, kaki mungil Yara menapak perlahan masuk ke dalamnya. Ia yakin kaca mungil itu ada di sana. Tangan halus itu meraih panjang benda kesayangannya, sambil tertusuk dingin dari rintik gerimis malam itu.


Yara tak ingin kehilangan kaca kecil kesayangannya, ia terus memanjangkan setiap ujung jarinya hingga bisa meraih kaca itu, namun serpihan kaca itu sudah cukup banyak retakan, Yara terdiam dan merasa hadiah itu tidak sengaja ia rusak. Kaca mungil itu punya banyak cerita hingga ia bisa memilikinya. Sosok wanita paruh baya yang ia temui di toko kain tahun lalu memberikan kaca itu kepadanya. Yara berjanji akan menyimpannya dengan baik 


Tetapi itu terlalu rapuh untuk sebuah kaca, layaknya alasan wanita paruh baya itu memberikannya. Ia tau, Yara juga terlihat rapuh dan mudah pecah dari raut wajah dan kantong mata yang terus menghitam, seakan sulit menyembunyikan semua luka yang ia bawa seumur hidupnya. Yara ingat wanita itu memintanya untuk melihat dirinya sendiri dari kaca itu setiap Yara bersedih, sambil berkata..


"Bila itu caramu mengatakan kesedihan, maka janganlah berputus asa. Sungguh Rahmat Allah SWT selalu menemanimu sepanjang nafasmu" (Q. S Yusuf : 87)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Because this is my first life (just for me)

Bubur Ayam untuk Kana

Biru