Sibuk banget Dunia
Sendal jepit dengan lis biru muda menemani langkah mungil kana untuk terus menapakkan pikirannya yang terus menggenggam kuat di benaknya. Ia hanya mengenakan sendal jepit itu di sudut ruang paling kecil dari panggung sandiwara hidupnya, mengenakannya hari demi hari tanpa ada tanda untuk menggantikannya dengan harapan lain. Tapak sendal itu pun sudah mulai licin, tak jarang lebih sering membuat kana terjatuh di dasar paling curam. Namun, ia sudah lebih sering berada di tempat paling jatuh sejatuhnya dasar. Ia lebih suka tempat itu, tempat yang pastinya membuatnya lebih damai dan memastikan tidak akan lebih banyak titipan di masa depan.
Pagi itu angin sedikit berhembus
lebih kencang dari biasanya, namun sinar mentari itu tetap ingin menyapa kana
dengan hangat untuk memastikan kana baik dan bahagia. Tapi, kamus hidupnya belum
sampai di kata bahagia, selesai sampai di angan.
Kana melewati pintu kayu
bergagang besi tua yang sudah berkarat, ia memulai untuk menyapa pedagang yang
ia selalu sapa setiap kali pedagang itu terduduk di bawah rindang pepohonan.
“pak, mari sarapan” basi kana.
Ia seketika melirik pada sepasang
suami istri paruh baya dengan pakaian lusuh mengendong bayi yang asik tertidur.
Ibu itu tersenyum pada nya, kana pun membalas senyuman itu dengan rasa
penasaran “apa yang mereka ingin lakukan di sini”
Berselang waktu, kedua pasangan
paruh baya itu duduk tak jauh dari pintu masuk kana, ternyata sang ibu mengambil
gambar kedua anaknya dengan jas rapi sambil tersenyum. Nyatanya kana baru sadar
saat senyuman itu juga terlukis di raut wajah suaminya. Senyuman itu seakan
melekat kuat pada mereka sepanjang lirikan kana.
Entah mengapa tugas sendal jepit
kana seakan bertambah dengan banyaknya pertanyaan yang bertambah setelah raut
wajah itu ia lihat dari pasangan suami istri dengan anak-anaknya yang dengan
bangga berpose rapi.
Malam hari, kana lebih lama
merenung dari biasanya. Ia menganggap itu sebuah mimpi untuknya, menganggap itu
juga bagian dari sandiwara mereka untuk terlihat baik-baik saja di depan banyak
pasang mata, sama seperti yang kana lakukan setiap harinya.
“ah.. Itu semua sandiwara, mereka
bohong jika bahagia seperti itu.”
Mata kana berair tanpa ia sadari,
ia tau jika satu-satunya yang hidup dari dirinya hanya mimpi orang lain. Mimpi
yang bertumpuk akan banyak permohonan atas dirinya di masa depan.
Kana sadar ia jadi satu-satunya
peran di hidupnya yang menumpukan berbagai angan dan harapan banyak jiwa.
Ia hidup seakan hanya untuk
mengabulkan banyak ekspektasi orang, membawa harapan itu bahkan saat tidur.
Meletakkannya rapi berdebu di lubuk hati yang paling rapuh dan lebih sering
rusak setiap kali terdobrak kuat dengan kalimat “udah selesai ?”
Apa boleh Kana melampaui kamusnya
untuk langsung ke kosa kata “Cukup”?
Kalimat yang terus Kana sampaikan
berulang, ia cukup muak meneriaki hal yang tidak ia harapkan tapi terus
diharapkan orang atas dirinya. Tapi ternyata teriakan itu tanpa suara.
Kana ingin melepaskan semua itu,
ia ingin berlari di rerumputan luas tanpa membawa ekspetasi orang lain kepadanya.
Ia ingin mengganti sendal jepitnya, mungkin saja membiarkan kakinya tanpa ber
alas dan menapak pada lantai lain yang membuatnya lebih nyaman untuk singgah.
Dari sekian keluhan Kana
Ternyata, sibuk banget dunia.
Komentar
Posting Komentar