Because this is my first life (just for me)
Dunia ini kembali menyambutku diseperempat awal kehidupan. Menamai banyak cinta dengan pola sederhana namun cukup hangat. Aku menamai banyak kisah dari setiap perjalanan usia yang mulai berkurang. Hampir semua jenis doa permohonan dan penyesalan, rasanya sudah cukup banyak dilantunkan.
Kadang aku merasa malu dengan doa memohon yang lebih banyak terucap dari pada ucapan maaf dan menyesal terhadap Tuhanku. Aku
mencukupkan semuanya dengan lafaz, Rabbish
rahli sadri, wa yassirli amri, wahlul 'uqdatam millisani, yafqahu qouli.
Surat
ini terlewat lama sejak akhirnya aku berpisah dengan 25 tahun awal kehidupanku. Menanyakan
kembali pertanyaan saat bertemu quarter life crisis sendirian. Ku kira itu
berakhir di seperempat usiaku, ternyata aku baru saja memulai membuka
semua itu. Aku sadar bahwa tidak ada seorangpun akan menjamin dirinya selalu berada di dekatku. Kalimat itu seakan tertanam hingga saat ini, sadar bahwa hanya aku yang harus
melaluinya. Sendiri!
Mengingat
banyak hal yang dulu jarang atau bahkan tanpa sadar, ketika aku lupa mengucap syukur
kepada pemilikku. Begitu banyak rezeki serta rahmat yang aku terima tanpa
sedikitpun Tuhanku meminta balasan.
Apa
aku termasuk golongan durhaka dengan pemilikku ?
Ingat
saat pertama kalinya aku berani menyudut sendirian di sebuah café dengan
buku catatan yang sudah terlanjur usang karena sering meninggalkan
bekas air mata setiap kali aku mencoba menyelesaikan sebuah kalimat, sekedar bercerita
tanpa punya seorang pendengar.
Kali
ini, tepat setelah melewati lebih dari seperempat abad hidup yang cukup roller coaster, aku mencoba
menyadari bahwa apa yang aku miliki tidak pernah sia-sia. Bahkan untuk hal
yang ku anggap hilang, pergi atau berkurang, sejatinya bukan Tuhan hilangkan. Mereka hanya
harus diganti.
Segala
bentuk rezeki yang ku kira berkurang dengan alibiku yang tidak pernah merasa cukup,
ternyata bukan maksud Tuhan menjadi tidak sayang. Ia tau, rezeki itu bukan dari jumlah. Rezeki itu berkurang bukan karena semata dosa dan kesalahan kita yang membuat-Nya murka. Ketika aku berfikir setiap kali orang-orang pergi meninggalkanku, bukan berarti Tuhan mengurangi rezeki karena kesalahanku. Bisa saja, dengan cara-Nya membuat orang di sekitarku mulai pergi, Tuhan memberitahuku bahwa they are not good enough for my life anymore, dan tanpa aku sadar kalau itu bagian kecil dari cara-Nya melindungiku.
Ia punya cara menutup telingaku dari perkataan yang tidak perluku dengar, menutup mataku atas segala tindakan yang mungkin akan mengecilkan hatiku, dan mewajari banyak kesendirian yang kulalui.
Tuhan
hanya ingin aku memiliki pilihan yang lebih mudah, menyederhanakannya dengan
ejaan lebih singkat. Ia tau saat ini aku masih banyak mengeja takdir yang
sedang ku coba baca.
Bila
banyak dari hal yang hilang di hidupku, aku menamai semua itu bentuk cinta
Tuhanku. Ia selalu memastikan aku cukup dengan apa yang kumiliki sekarang.
Menyimpannya sendiri tanpa harus mencari mata dan telinga lain untuk sekedar
memvalidasi segala proses panjang yang kudapatkan dari usahaku.
Ajaibnya, ketika aku mulai mencoba memaafkan diriku dengan semua ini. Tuhan tidak ingin terlalu lama menutup mata dan telingaku. Ia mungkin sengaja menghadirkan mereka yang kini membersamaiku dan membuka sebuah buku dengan judul "Namaku". Mendongengkan perlahan semua halaman hingga bagian tengah cerita itu. Tokoh yang cukup banyak dan dialog yang tidak sempat aku ekspektasikan. Waw. Cerita menarik dan aku akan coba memaknai baik semua kisah itu.
Tuhan,
bila kehidupan esok jadi tanda bahwa aku bisa melalui sendiri dan berdua bersama-Mu,
maka tunjukkan segala bentuk rasa kecukupan yang harus ku syukuri di setiap
harinya. Sebagai yang Maha Mencukupkan.
Komentar
Posting Komentar