Perpisahan Sederhana

Notifikasi masuk dipenghujung hari biasanya, Kana bersiap merubah dirinya menjadi versi lain mala mini. Menyudut sepi sendiri ditemani earphone nya, sinar lampu kamarnya ikut menemani ruang sempit beralas kayu jati itu dengan terang. Membiarkan cahaya itu tetap bersamanya sebelum lewat tengah malam. Kana melihat notifikasi podcast yang ia dapatkan dari Panca. Kana sedang belajar untuk duduk, duduk tenang mendengarkan apapun yang terlintas di telinganya.

Bincang podcast kali ini sedikit menguras logikanya, ia mendengarkannya sembari membuka lemari 4 tingkat miliknya yang sudah rusak engselnya.

Memulai semua perpisahan dari tingkat paling atas. Kana membongkar lemari itu beserta cerita mereka pada setiap helai bajunya. Kaki mungil itu terlihat sedikit menjinjit meraih helai kaos paling bawah untuk menarik semua pakaiannya. Kana masih memutar podcast itu sambil mengiyakan perkataan sang audio seakan tubuh dan fikirannya dikendalikan oleh sebuah audio.

Suara itu memaksa Kana merubah sebagian kecil dari dirinya yang senang menyimpan banyak kenangan.

Kana mencoba menalarkan setiap kata yang terdengar ditelinganya,

“Kamu masih merasa mereka bermanfaat untukmu ?” Tanya podcaster tersebut.

Sejenak Kana terdiam dan lupa sudah dihitungan berapa baju yang ia pisahkan. Tapi, ternyata ini bukan tentang baju Kana.

Ia mencoba memilah semua perlahan, memisahkan setiap pakaian yang masih ia butuh dan yang tidak lagi menarik baginya. Memilah kembali di pintu kedua, namun cukup mudah karena isinya tidak banyak hanya kumpulan botol  skincare hariannya, tidak begitu sulit dibuang karena yang sulit hanya bagian membelinya.

Ia juga tidak lupa membuka laci meja putih yang selalu ia kunci. Banyak lembaran surat dari orang-orang yang masih dan pernah ada dihidup Kana. Membaca kembali perlahan kertas yang mulai usang dan tinta yang sudah tidak lagi jelas terbaca.

Kana lama terdiam sambil memilih kertas yang ingin tetap ia simpan. Namun, suara audio podcast itu terlalu berisik membisik,

“Apa barang itu membuatmu sedih?” Tanya podcaster

Hati Kana lantang mengiyakannya, ia memutuskan untuk sekali lagi membaca dan menatap perlahan semuanya beserta kenangan yang terekam ulang difikirannya. Lalu merobek perlahan, memastikan semua bagian kertas itu akan terpisah di tempat paling jauh nantinya. Kana memilih membuang semua tulisan dan kenangan itu, ia memilih untuk hanya menyimpan kenangannya saat ini.

Kana membungkus setiap bagian masa lalunya dengan rapi dan memastikan mereka akan pergi ke sebuah tempat yang tidak ada dirinya di sana.

“Hai baju, surat, pakaian ku. Terima kasih sudah pernah bersama untuk waktu yang lama. Terima kasih sudah mengingatkanku dengan semua kenangan baik ataupun tidak saat bersamamu. Saat kita bertemu di akhirat nanti, tolong bersaksi kepada Tuhan bahwa kalian baik saat bersamaku. Aku melepaskanmu dengan tenang dan perlahan.” Ucap Kana

Kana belajar bahwa Ia juga harus belajar melepaskan sesuatu yang tidak lagi berharga. Tapi ini bukan tentang baju dan surat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Because this is my first life (just for me)

Bubur Ayam untuk Kana

Biru