Biru
(Chapter 1...)
Pada suatu pagi yang cerah, di
balik selimut tipis itu kaki mungil Dawa perlahan keluar menghangat bersama
terbitnya matahari.
“Dawa, kamu sudah siap untuk
bangun ?” panggil sosok perempuan paruh baya.
(sambal menguap) “Huaaaa.. ini
sudah pagi ya, Umma ?” sahut pelan Dawa sambil mengusap matanya.
Umma yang sedari tadi menunggunya
untuk bangun, menyambut Dawa dengan lembut sambil mengecup pelan kening sang
anak.
“Umma sudah masakkan telur
kesukaanmu.” sambil tersenyum melihat Dawa
Bergegas dengan langkah kecil sambil
terus menguap, Dawa membasuh muka lalu Bersiap menyantap sarapannya.
“Pelan-pelan makannya sayang.”
“Masakkan Umma palingggg
eennaaakkkk.” teriak Dawa memuji masakan Umma.
Pagi itu, sehangat sinar matahari
pagi. Ruang makan kecil itu ikut terasa hangat dengan tawa dan celoteh Dawa
yang terus bercerita banyak hal kepada Umma.
Namun, tak berselang lama. Langit
diluar tampak gelap. Awan menghitam bersama dengan datangnya angin kencang yang
menerbangkan kelopak bunga mawar yang baru saja bermekaran di awal musim.
“Kenapa cuacanya mengerikan Umma
di luar ?” sambil melirik ketakutan.
“Tidak apa-apa nak, Umma di sini.”
tangan Umma yang terus memeluk erat Dawa.
Di balik semak tepat di samping
rumah Dawa, angin kencang membawa sosok yang sering dipanggil Dewa Maui.
“Hai Dawa, Ibumu harus ikut
bersamaku. Ia telah menukar jiwanya agar kau tetap hidup. Sekarang, Ibumu harus
kembali ke alamku.” Lantang sang Dewa.
“Tidakkk, Umma tidak boleh pergi.
Mengapa Umma menukar jiwa Umma untuk Dawa?” tanyanya dengan air mata yang sudah
tidak mampu lagi ditahannya.
“Sayang, temui Umma. Setelah 5
keping cermin lainnya ini kau kumpulkan kembali.” pinta Umma sambil memberikan
bingkai kotak dengan sebuah serpihan kaca putih di dalamnya yang telah patah.
Akhirnya, Dewa Maui membawa raga Umma pergi menjauh dari Dawa.
Dawa tidak pernah sesedih ini, ia bingung dan ketakutan. Namun, tidak ada yang
memeluknya saat itu.
Ia melihat dan membuka kotak dengan
serpihan sebuah kaca putih di dalamnya, benda itu tidak asing baginya, ia
sering melihat Umma selalu membawanya kemanapun ia pergi. Kaca itu ia lihat
cukup lama hingga matahari pun tenggelam.
Dawa teringat, tempat dimana Umma
meletakkan kotak kaca itu setiap malam.
Segera ia membuka laci usang milik sang Ibu lalu menemukan selembar kertas
bertulis
“Terbit Mentari, ke arah timur, seberangi pulau pertama.”
Ia merasa ini adalah petunjuk untuk
ia bisa menemukan serpihan kaca.
Dawa bergegas ke arah timur
hingga menjemput fajar yang perlahan terbit menyapanya.
Dengan perahu kecil miliknya, ia menyeberang hingga ke pulau pertama yang
terlihat di depan matanya.
Umma sering mengatakan pulau itu Bernama “Pulau Amigo”
Perahu kecil itu perlahan menepi di bibir pantai, Dawa melihat dari kejauhan
ada sosok gadis kecil berkepang dua dan memakai rok dengan hiasan bunga warna
warni di kepalanya.
Segera Dawa menemuinya sambil
mengatakan
“Hai, Aku Dawa, apakah kamuuu…”
“Siapa kamu? pergi dari sini !” Teriak gadis itu meminta Dawa untuk
meninggalkan pulau itu.
“Tenanglah, aku Dawa, aku dari
pulau di seberang sana. Aku sedang mencari serpihan kaca agar aku bisa
menjemput ibuku.” pinta lembut Dawa.
“Untuk apa kau membutuhkan
serpihan kaca itu ?” tanya heran gadis kecil itu.
“Entahlah, yang pasti Ibuku
dibawa oleh Dewa Maui dan Ibuku memberiku ini” sambil menunjukkan kotak kaca
dengan sebuah serpihan kaca putih di dalamnya.”
“Aku tau dimana kaca serpihan itu.
Tapi aku tak akan mengatakannya padamu, aku tidak percaya dengan siapapun di
dunia ini.” sahut sang gadis dengan nada marahnya.
“Apa aku menakutkan bagimu?”
tanya Dawa
“Tidak, aku hanya takut percaya
dengan siapapun.”
Dawa sejenak melihat tangan gadis itu terluka, ia ingat sang Ibu selalu
membalut luka ditangannya dengan kain.
Dawa selalu membawa sapu tangan
putih di sakunya, ia tanpa bicara segera membalut tangan gadis itu dengan
lembut.
Seketika gadis itu terkejut namun
ia tidak terdiam saat tangannya dibalut perlahan oleh Dawa.
“Luka ini harus ditutup agar
tidak lagi menjadi luka baru.” kata Dawa sambil terus memastikan luka di tangan
gadis itu terbalut.
“Namaku Kana, aku tinggal sendiri
di sini” balasnya sambil tertunduk malu
“Apa kau memang benar-benar
sendiri di pulau ini ?” tanya Dawa
“Tidak, dulu ada temanku yang
kini sudah berlayar pergi jauh dariku, entah kapan ia kembali, tapi aku akan
tetap menunggunya pulang.” lirih perlahan Kana sang gadis kecil yang terluka
itu.
Dawa mengerti, mengapa gadis ini takut dengan orang baru yang hadir dihidupnya,
ia hanya belum siap menerima perpisahan tanpa alasan.
Tak lama, gadis itu mengeluarkan
sesuatu dari kantongnya. Ia terlihat cahaya biru hingga menyilaukan mata Dawa saat
benda itu keluar.
Kana memberikannya serpihan kedua
kepada Dawa.
“Ini serpihan kaca biru yang kau cari, kan?” kata Kana sambil tersenyum
“Wahhh.. ini indah sekali.” jawab
Dawa sambil terus terpukau dengan keindahan kaca biru itu
“Terima kasih kau telah membantuku
menutup luka ini, kau sangat baik menerima rasa takutku.” ucap Kana sambil
menggenggam tangan Dawa.
Dawa tersenyum membalas ucapan
terima kasih dari sosok gadis yang mulai mencoba menerima rasa takutnya lebih
sederhana.
Segera Dawa menuju kembali ke
perahu kayu kecilnya untuk melanjutkan perjalanannya menemukan semua serpihan
kaca itu.
“Kau harus pergi ke pulau Seba,
pulau itu banyak sekali sayuran. Kau harus bertemu dengan gadis sepertiku di
sana. Ia akan memberitahumu kemana kau bisa menemukan serpihan kaca berikutnya.”
teriak kecil Kana melambai bersama tangan mungilnya yang terbalut sapu tangan
pemberian Dawa.
Dawa mengingat setiap petunjuk
dari Kana, menjauh dari pulau tenang itu dengan banyak rasa takut yang perlahan
surut bersama dengan banyak kelembutan untuknya, si gadis kecil penakut itu.
Komentar
Posting Komentar