Break fast Tea

 

Suara pijakan kaki itu membunyikan lantai kayu usang di rumah itu, membawa Na bi kembali dari mimpi kelabu nya. Na bi menarik sedikit kain tipis itu hingga menutup lengannya yang mulai dingin. Na bi tau ia selalu terbangun dengan suara lantai kayu itu, tapi suara itu alarm yang ia takuti. Berdecit ringan namun terasa sakit ia dengar hingga ke telinga. Mencoba menyadarkan diri perlahan, meskipun kelopak matanya terukir lebih menua dari jiwanya saat ini. Itu bukan tentang kelopak mata ataupun telinganya. Na bi mencoba menggunakan inderanya dengan baik, bahkan di titik paling tidak baik.

Bukan dari raganya yang ingin terkuak, namun suara langkah kaki itu jauh lebih menakutkan dari sekedar melihat jump scare film “Quiet Place”, memaksa mereka diam walaupun ingin berteriak. Itu film kesukaan Na bi, film yang membuat Na bi akhirnya sadar jika tidak semua teriakan di izinkan bersuara.

Na bi mengambil jeda terlampau banyak, me mubazirkan waktu lebih dari batas kemampuannya menunggu momentum yang tepat. Ia sampai tidak mengenal lagi raut wajahnya yang sudah lama tidak ia pandang sejak cermin di kamarnya ia pindahkan dari kamarnya. Sengaja, agar ekspetasi sedarahnya tidak membuatnya terlihat menjadi wanita gila.

Meletakkan titik setelah selesai pada satu kalimat dan masih berpura diam dari riuh tawa yang terdengar sejak cahaya lampu remang yang terlihat jauh dari sudut matanya. Na bi ingin tertawa layaknya manusia, bukan dari sebuah identitas baiknya saat ini, hanya ingin menjadi dirinya yang sudah lama ia rindukan. Nabi ingin pulang, tapi rumahnya sudah lama tak nyaman.

Petang itu membagi batas waktu Na bi untuk melepas banyak rantai pundaknya, tapi rantai itu ia pasang kembali di kakinya setiap malam. Sadar jika itu perangkap terempuk, namun itu membunuh banyak angannya.

Menyeduh secangkir teh hangat tanpa gula, ia seduh di hampir sepertiga malam tidurnya. Meneguk perlahan, memastikan setiap tetesnya bisa membuatnya sedikit bersabar dengan rasa pahit teh itu. Jauh lebih baik untuk membuat teh hangat tidak berteman dengan sepotong roti atau pisang goreng yang baru saja di angkat dari penggorengan, sudah jelas jika ia memang tidak dilahirkan untuk membersamai roti atau pisang goreng.

Teh hangat itu disajikan lebih layak saat munculnya mentari, membawanya ke kasur sejenak setelah bangun tidur, menghirup uap air perlahan tanpa teman. Menenangkan diri sambil memastikan teh itu tetap hangat hingga pukul 8 pagi sebelum Na bi memulai banyak sandiwaranya.

tapi, ini bukan tentang the hangat pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Because this is my first life (just for me)

Bubur Ayam untuk Kana

Biru