Sibuk banget Dunia
Sendal jepit dengan lis biru muda menemani langkah mungil kana untuk terus menapakkan pikirannya yang terus menggenggam kuat di benaknya. Ia hanya mengenakan sendal jepit itu di sudut ruang paling kecil dari panggung sandiwara hidupnya, mengenakannya hari demi hari tanpa ada tanda untuk menggantikannya dengan harapan lain. Tapak sendal itu pun sudah mulai licin, tak jarang lebih sering membuat kana terjatuh di dasar paling curam. Namun, ia sudah lebih sering berada di tempat paling jatuh sejatuhnya dasar. Ia lebih suka tempat itu, tempat yang pastinya membuatnya lebih damai dan memastikan tidak akan lebih banyak titipan di masa depan. Pagi itu angin sedikit berhembus lebih kencang dari biasanya, namun sinar mentari itu tetap ingin menyapa kana dengan hangat untuk memastikan kana baik dan bahagia. Tapi, kamus hidupnya belum sampai di kata bahagia, selesai sampai di angan. Kana melewati pintu kayu bergagang besi tua yang sudah berkarat, ia memulai untuk menyapa pedagang yang ia selal...