Break fast Tea
Suara pijakan kaki itu membunyikan lantai kayu usang di rumah itu, membawa Na bi kembali dari mimpi kelabu nya. Na bi menarik sedikit kain tipis itu hingga menutup lengannya yang mulai dingin. Na bi tau ia selalu terbangun dengan suara lantai kayu itu, tapi suara itu alarm yang ia takuti. Berdecit ringan namun terasa sakit ia dengar hingga ke telinga. Mencoba menyadarkan diri perlahan, meskipun kelopak matanya terukir lebih menua dari jiwanya saat ini. Itu bukan tentang kelopak mata ataupun telinganya. Na bi mencoba menggunakan inderanya dengan baik, bahkan di titik paling tidak baik. Bukan dari raganya yang ingin terkuak, namun suara langkah kaki itu jauh lebih menakutkan dari sekedar melihat jump scare film “Quiet Place”, memaksa mereka diam walaupun ingin berteriak. Itu film kesukaan Na bi, film yang membuat Na bi akhirnya sadar jika tidak semua teriakan di izinkan bersuara. Na bi mengambil jeda terlampau banyak, me mubazirkan waktu lebih dari batas kemampuannya menunggu m...